Translate

Jumat, 28 Oktober 2016

Sepucuk surat dari masa lalu

Ada sajak yang memisahkan pikiran.
Ada spasi yang memisahkan kata
Ada waktu yang memisahkan kehidupan
Ada jarak yang memisahkan seseorang..
Apakah ada sesuatu yg dapat memisahkan kita ?
Tentu ada.. Bahkan lebih banyak dari yang kita kira..
Tuhan memberikan kita cinta, dan suatu hari akan mengambilnya juga..
Setelah rasa itu hilang apa kita akan tetap bersama ?
Entah kita sedang berjuang untuk mempertahankan atau sedang menunda perpisahan.

Tak pernah ada yg tahu bagaimana kita memulai hubungan ini..
Tak ada yg tahu bagaimana kau meyakinkan ku tentang hubungan ini..
Tak ada yg tahu bagaimana komitmen itu kita buat..
Mereka pun tak tahu apa saja yg telah kita lewati selama ini..
Tidak ada yang lebih tahu selain kita berdua..
Mereka hanya penonton yg sedang menunggu hiburan untuk di tertawakan..
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku, bukan dengan cara mereka..

Semuanya terasa indah, setiap pertengkaran yg kita lewati terasa lucu..
Namun tak pernah ku sangka, ternyata bagimu itu adalah suatu beban yg senantiasa membuatmu tertekan jika bersamaku.
Aku minta maaf.. Terima kasih karena sudah menyadarkanku..
Bahwa ternyata, jenuh itu memang telah lama hadir di antara kita..
Selama ini, aku saja yang bahagia, aku saja yg merasa berapi-api tentang masa depan bersamamu..
Maaf karena aku masih belum bisa menjadi apa yg kau mau..
Maaf karena aku tidak sesempurna apa yg kau pikirkan..
Bagaimanapun, aku adalah wanita..
Yang telah menyerahkan hatinya untuk orang yg dia sayangi..
Juga telah menyerahkan angan-angannya Tetang masa depan bersama orang yg aku sayangi..

Apa aku kecewa ?
Iya.. Sangat berat bagiku melewati semuanya..
Tetapi, inilah jalan yang terbaik untuk kita..
Percayalah padaku ini bukan salah mu..
Ini salahku, yang terlalu memaksakan perasaanku padamu..
Harusnya aku tahu diri agar tidak menjadi serakah,
mencintaimu diam-diam selama ini saja harusnya sudah lebih dari cukup bagiku..
Andai aku tahu bahwa sakitnya akan bertambah parah seperti ini,  Harusnya sejak awal tak perlu ku ungkapkan apa yg ku rasakan padamu..
Harusnya aku tak melangkah menjalani hubungan ini..
Padamu...
Masa lalu, ku titipkan sepotong kenangan yang enggan ku buang..
Namun tak jua ingin di ingat..
Padamu...
Masa lalu, ku simpan sebuah cerita tanpa akhir yang takkan hilang hingga kapanpun..
Dan padamu...
Masa lalu, ku serahkan sejengkal harapan yang tak kunjung usai dalam benakku..
Berharap suatu hari nanti, kita akan bahagia sesuai dengan apa yang kita inginkan..
Meski kita tak lagi bersama..
Percayalah.. Aku akan tetap menyimpan semua rasa dan cerita kita hingga aku mati..

Jadi jangan lupa untuk menyapaku jika kita bertemu juga tersenyumlah padaku..
Setidaknya dengan melihat itu akan tahu bahwa kamu baik-baik saja dan kamu bahagia tanpa aku..
Jangan gentar menghadiri acara jika aku ada di sana..
Maaf aku membuatmu jenuh dan lelah dengan semua tingkahku..
Kini saatnya kamu bahagia dengan keinginanmu, tanpa aku..

Aku hanya menyesali satu hal..
Aku bahagia jika bersamamu. Namun sebaliknya tidak untukmu..

Sepucuk surat dari masa lalu.
Sign
Me.

To
Kojo.