Awalnya ku fikir akan lebih mudah jika kita melepaskan orang yang kita cintai, memberikan mereka kebebasan atas dirinya sendiri dan diri kita sendiri. Agar kita sama-sama tidak terbelenggu dalam kesedihan yang semakin akut. Dan mengira semuanya akan berhasil, tak ada lagi air mata, tak ada lagi kekhawatiran, takkan ada lagi rindu yang menyiksa. Bebas.
Namun ternyata aku salah. Ketika aku melepaskan seseorang yang ku cintai , awalnya terasa nyaman, lama-lama rindu yang aku anggap akan hilang malah semakin mengikat, semakin berkecamuk dalam diriku. Rasa cinta yang ku fikir akan pergi malah semakin mengusikku.
Dilema yang terjadi adalah, ketika aku benar-benar jatuh cinta kepada dia lagi , lagi, lagi dan lagi. Perpisahan ini bukannya menyisahkan ketenangan, tapi sebaliknnya. Aku merasa ada yang hilang dari diriku, sesuatu yang aku sendiri belum mengerti apa itu.
3 tahun berlalu, tapi tetap saja rasa itu tak pernah hilang. Seseorang yang ku lepaskan melalui penyesuaian keikhlasan, menyisahkan duka yang mendalam. Selama ini, aku selalu berdoa pada Tuhan, jika dia adalah jodohku maka dekatkanlah, jika tidak tolong bantu aku untuk melupakannya.
Karena sejak aku menemukannya, aku mencintainya lebih dari apapun . Dia adalah cinta pertama yang Tuhan titipkan, cinta yang indah dan berkelas. Mengajarku agar lebih mendekat dengan Allah bukan menjauh, cinta yang mengajariku agar tetap melakukan perintah Allah bukan sebaliknya, cinta yang melindungiku, bukan merusakku, melecehkanku, dan memojokkanku.
Cinta itu.. Hari ini datang melalui sosial media. Jika itu adalah pertanda bahwa Tuhan mengabulkan doaku, maka inilah keajaiban yang sebenarnya. Allah maha tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar