Translate

Rabu, 15 April 2015

WHO AM I ? (repost short story created by Novia)

WHO AM I ?
31 desember
siang itu, kompleks terasa sepi. semua orang telah meninggalkan rumah mereka menuju pantai, untuk merayakan malam tahun baru. sunyi, sepi, dan tanpa suara. ya, begitulah keadaan kompleks perumahan bunga indah yang ku tempati. bahkan mama telah keluar rumah sejak jam 3 sore tadi. tinggallah aku, mbok ani, dan pak narto. aku berdiri di balik jendela kamar, memandang jalan komples yang sepi, hanya terlihat bebeerapa ekor kucing sedang mengorek-ngorek tempat sampah depan rumah. lucunya.. batinku terasa ingin berterik memanggil kucing-kucing itu, "aaauuugggghhh" dan terdengar hanya suara yang membuat kucing-kucing itu pergi.
           aku seorang cacat mental, kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah mengharapkan kehadiranku didunia ini. mereka melihatku seperti musuh dari dulu. tidak ada kasih sayang yang menyirami perkembanganku setiap tahun. tidak ada perayaan ulang tahun seperti teman-temanku yang lain. dan aku pun disembunyikan dari publik, seolah aku adalah aib paling buruk bagi mereka.
          mungkin saat ini mama sedang asyik bersama teman-temannya, merayakan malam tahun baru dipuncak. yah, mama sangat sering keluar rumah semenjak telah di ceraikan oleh papa satu tahun lalu. aku tahu jelas, mereka bercerai gara-gara aku, mereka selalu meributkan aku, aku,dan aku. papa curiga pada mama, dan menuduhnya selingkuh, karena rupaku ini memang tidak mirip mereka. mama yang cantik dan papa yang manis. sedang aku ? gadis dengan keterbelakangan mental, dengan kepala yang kecil, bola mata yang besar, seakan ingin menerobos kantung mataku, hidung pesek, dan di tambah lagi mulut yang lebar dan terus menganga dan terus mengeluarkan air liur tanpa henti.
 kadang aku merindukan belaian mama, tak pernah sedetikpun aku melihat mama tersenyum padaku, yang ada hanya kemarahan dan cacian yang selalu ku terima dari mama. aku merindukan kata-kata lembut dari papa, tapi kenyataannya papa tidak pernah sekalipun mengeluarkan suara untukku. terkadang, begitu menyakitkan hidup dalam kesunyian ini, aku merasa telah berdosa dengan lahir kedunia. bahkan, aku berfikir, mengapa aku hidup ? diberi tempat tinggal, dan makananpun seharusnya aku sudah merasa cukup. tapi aku ingin lebih dari ini, aku ingin mama tau, kalau aku juga ingin disayangi.
          mama dan papa sangat berbeda dengan mbok ani dan pak narto. mereka selalu sudi tersenyum padaku, selalu sudi menolongku ketika jatuh, mbok ani yang selalu ikhlas membersihkan tetes-tetes air liur yang membasahi bajuku, bahkan mbok ani membacakan dongeng dan menyanyikan sebuah lagu sebelum aku tidur. hal yang tidak pernah mama berikan padaku.
31 desember 2012, 23.40
          sebentar lagi, tahun baru akan datang, itu artinya ulang tahunku pun akan datang pula. aku tetap berdiri dibalik jendela kaca di kamarku. menatap jalan yang hanya diterangi oleh lampu jalan. aku mulai meraba masa-masa kecilku. ces!! air liurku kembali menetes dan membasahi bajuku. aku hanya melihatnya dan kembali menerawang dunia luar.
          "mama dimana ?" batinku merindukan mama, "aaauuughhhh" tapi lagi-lagi aku hanya dapat mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. aku benci menjadi AKU. aku ingin hidup normal, aku tidak ingin dicaci, dimaki, dan di sembunyikan. aku ingin disayangi.
          perlahan aku mendengar suara ketukan pintu kamarku, tidak lama kemudian pintu kamarku terbuka, ku lihat seorang wanita tua meghampiriku dengan segelas susu ditaangannya. "mbok ani !" batinku berteriak aku girang ! aku melompat dari tempatku dan menghampiri mbok ani. tersenyum lebar didepannya. "aaauuuggghhh ?" aku menanyakan susu ini untukku ? dan mbok ani mengangguk. ku rampas dari tangan keriputnya dan langsung kuhabiskan semua. entah mengapa, melihat mbok ani membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri.  aku menangis dan memeluk tubuh mbok ani dengan erat, dia merasakannya. dia mengusap sudut-sudut mataku, dan menggiringku ketempat tidur. membaringkanku dan berkata "malam ini adalah malam terbaik untukmu, hari ini kamu berulang tahun, lihatt ! tinggal 2 menit lagi." mbok ani mengangkat weekerkku dan memperlihatkan jarum-jarum jam yang masih sibuk dengan pekerjaannya. aku tersenyum.
          ku letakkan kepalaku tepat di pangkuannya, aku melihat ada air yang menggenang disudut matanya. mbok ani masih nyaman mengusap rambutku yang tidak terlalu panjang ini. tak lama kemudian aku mendengar suara yang melantunkan sebuah lagu yang tak asing di telingaku, lagu yang biasa aku dapatkan di acara pesta ulang tahun teman-temanku. "slamat ulang tahun... slamat ulang tahun, slamat ulang tahun desy, slamat ulang tahun..." suaranya begiitu lembut, dan genangan air di sudut matanya terlihat bertambah, entah apa yang difikirkan olehnya. didaratkannya kecupan paling manis di jidatku, terasa basah..
aauugghh..." aku tersenyum. mbok ani mengikatkan gelang berwarna merah di lengan kananku. tampaknya ini adalah hadiah. aku menyukainya. "tidurlah, sudah malam. selamat ulang tahun desy" dia kembali mengecup keningku. aku kembali menangis, kupeluk dia dengan erat, lebih erat dari pada sebelumnya. tubuhnya bergetaR, begitupun aku. kulepaskan tubuhnya dan membiarkannya pergi, tak lupa dia mematikan lampu dan menutup pintu. akupun tertidur.
 
1 januari 2013, 12.45
          hari ini mama benar-benar marah padaku, aku ketakutan, mata mama merah, suaranya lantang. mama marah karena tanpa sengaja aku memecahkan vas kesayangannya, pemberian papa sewaktu mereka masih akur. aku mundur satu demi satu langkah. aku ketakutan melihat mama. "anak kurang ajar ! tidak berguna" makian mama semakin membuatku takut, aku mundur, mundur dan terus mundur. mama menghampiriku dengan penuh amarah, menlancarkan kata-kata kasarnya padaku. hatiku sakit, aku takut. mama membersihkan liurku dengan kasar hingga aku terjungkal kebelakang. kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
          mbok ani datang menghampiriku dan mengangkat bahuku, membawaku masuk kedalam kamarnya.aku menangis, terlalu sakit rasanya melihat mama marah. belum pernah mama marah seperti itu. mbok ani membawakanku segelas air putih. ku lihat dia penuh dengan kesedihan. lagi-lagi sudut matanya terlihat genangan air yang tertahan untuk mengalir.
 mbok ani menyodorkan minuman itu. entah mengapa, aku merasa kepalaku begitu sakit. hingga aku tertidur di kamar mbok ani.
17.55
          aku terbangun, ku lihat disekelilingku ternyata aku masih ada dikamar mbok ani. tak sengaja, pandanganku menyenggol cermin pada lemari pakaian yang terletak di sudut kamar mbok ani. kulihat mataku bengkak, pipiku terlihat merah, akibat tangan mama. aku tidak bisa benci sama mama. tidak sama sekali.
          aku melangkahkan kakiku keluar rumah, duduk diantara bebatuan taman depan rumah. aku melihat mobil limousine putih berhenti tepat di dipagar rumahku. tiba-tiba pak narto mengajakku masuk kedalam rumah. aku tidak mau, aku menolak. aku ingin melihat siapa pemilik mobil itu. tapi pak narto terus membujukku. katanya mama akan marah bila melihatku disini, itu taamu mama, dia tidakingin tamunya melihatku. akupun menuruti kata pak narto. aku kembali kekamar, memandangi orang-orang  itu dari dalam kamar. terlihat dua orang perempuan seumuran mama datang, mereka cantik-cantik. aku selalu senang melihat tamu-tamu yang datang kerumah ini, karena mbok ani pernah bilang kalau tamu itu harus selalu menjadi orang yang penting.
          aduh... kepalaku terasa sakit lagi. ku baringkan badanku di sofa yang ada disudut kaamarku. rasanya sangat sakit, apa mungkin karena terlalu lama menangis ? akhirnya kuputuskan untuk tidur kembali.
7 januari 2013. 19.00
          seminggu ini tidak terlalu banyak hal yang terjadi. tapi entah mengapa perasaanku sangat tidak enak. aku mencoba mencari mainanku, tapi aku tidak berhasil menemukannya di dalam kamar. akupun berinisiatif mencarinya di ruang kerja mama. kulihat diatas meja tergeletak secarik kertas yang tidak kumengerti isinya. ku ambil dan langsung mengguntingnya sesukaku.
          kudengar denga samar suara kaki melangkah menuju kerahku. ternyata mbok ani. betapa  terkejutnya mbok ani melihat apa yang telah ku perbuat. mbok ani merampas gunting dan kertas itu dari tanganku, aku melolong, berusaha merebut mainanku itu. mbok ani trus melarangku. tiba-tiba pintu terbuka. betapa murknya mama ketika melihat dokument-dokumentnya telah menjadi potongan=potongan kecil. dan melihat sebagian di tangn mbok ani.
 "siapa yang melakukan ini ?" aku terpaku,kumasukkan badanku dibawah meja, berusaha ersembunyi dari mama. "siapa yang melakukan ini !! kalian tidak tahu ?! itu berkas yang akan saya bawa ke prancis besok !!" suara mama semakin keras, dan tiba-tiba mbok ani berdiri dan mengakui kesalahan yang tak pernah di perbuatnya. dia mengatakan bahwa dia yang menggunting dokument itu, dia tidak ingin kalau mama terus-terusan keluar dan meninggalkanku sendiri, dia tidak ingin melihat mama mencaci maki aku. dia tidak ingin mama menghina aku, dia ingin agar mama membahagiakanku, dan mengakuiku. aku menangis, batinku berteriak, jangan ! jangan mengakuinya, kamu dalam masalah besar, dia akan murka terhadapmu mbok !'. mendengar hal itu, benar saja, mama marah sekali pada mbok ani. aku berlari kearaah mbok ani, memeluknya sekuat yang aku bisa. kami menangis, menangis dalam kekesalan, kehilangan, kekejaman yang dibuat oleh mama. hanya ada satu kalimat yang membuatku semakin tidak bisa menahan air mata ''keluar dari sini ! kamu saya pecat !''hatiku seperti tersambar petir disiang hari ! tidak ! tidak ! ini salahku, salahku ! bukan mbok ani yang melakukannya teriak batinku, dan kembali lagi hanya lolongan yang terdengar dari mulut besarku ini.
kupandangi wajah mbok ani, kulihat matanya. kini air yang menggenang disudut matanya telah tumpah membasahi pipinya. mbok ani kini menentng koper besarnya keluar dari rumah, aku sama sekali tidak menyangka mama tega melakukan ini. aku berusaha menarik mbok ani agar tidak pergi tapi pak narto memegang erat tubuhku. mbok ani pergi meninggalkan aku karena salahku, dia telah tidak ada.
          aku berlari masuk kedalam rumah ketika mbok ani pergi, aku benci sama mama dan semuanya. aku benci sama mama yang tidak mau mendengarkan penjelasanku, aku benci pada pak narto karena tidak mencegat mbok ani untuk tinggal ! aku benci ! sangat benci !
8 januari 2013, 08.00
          aku masih kesal sama mama, aku belum keluar dari kamar sejak kejadian itu. kini, tidak akan ada lagi orang yang sudi mengetuk pintu kamarku hanya untuk membujukku makan, kini tidak ada lagi orang yang akan mengusap air mataku, mama ? mama bukan mama ku. bahkan seekor singa saja tidak akan tega melihat anaknya dalam masalah.
          dari jendela kamarku, kulihat mobil papa terparkir di depan rumah. aku penassaran dengan tujuan papa datang kesini. tapi aku tidak mau keluar dari kamar ini. meski perutku terasa sakit sekalipun. aku akan tetap disini.
          aku masih ingat ketika mbok ani membawakanku susu setiap malam. menyanyikan aku lagu, membelai rambutku, mengusap liurku yang menetes. aku merindukan itu, hal manis itu. ku serahkan semua pada tuhan. jika sekarang aku akan menghadapnya dengan cara seperti ini, maka aku akan ikhlas.
 11 januari 2013
          sudah 3 hari aku tidak keluar kamar, tidak makan, dan tidak mandi, bahkan persediaan air dikamarku hampir habis. aku hanya mengisi perutku dengan air yang ada di kamar. tubuhku lemas, seakan tak mampu berdiri. mungkin mama mengira aku sudah mati. tak seorangpun yang mengetuk pintuku dan membujukku. tak ada lagi. yang kulakukan sekarang hanya duduk diatas springbad sambil menuliskan kegiatanku setiap waktu pada diary ini.
          kamarku sekarang, tak lagi bersih. mama telah memiliki pembantu baru. tapi pembantu itu sama kejamnya dengan mama. aku takut, mbok ani, mbok kemana ? aku rindu mbok.. aku sendirian, tanpa teman. aku sendirian menahan sakit, tidak ada lagi yang mengusap rambutku ketika ku merasa sedih. tidak ada lagi yang mampu mengukir senyum di bibirku yang keluh ini. tiga hari berlalu tanpa makanan membuatku seperti pengidap penyakit anoreksia. tubuhku kurus kering, hanya nafas yang tersenggal-senggal yang menemaniku menjalani hidup.
          entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sakit di bagian kepala.penderitaanku ini kapan akan berakhir ? sakit sekali, sangat sakit
 14 januari, 17.02
          mama dan papa pulang, mereka tampak bahagia. aku juga ikut bahagia. kondisiku semakin melemah. lemah.. sakit dikepalaku semakin menjadi-jadi. sakit sekali. mungkin ini akibat aku tidak makan. aku hanya ingin mama. Tapi apalah daya keinginanku ? mama saja tidak pernah menganggapku ada. Semua orang kecuali mbok ani. Ah iya… suara diluar kamar terasa hangat. Senyumku mengembang, padahal suasana hatiku sama sekali tidak bahagia. Aku takut… aku selalu merasa takut pada mama, papa…
          aku kangen sama nenek, aku kangen sama mbok ani. Hanya mereka yang bersedia menerimaku apa adanya. Hanya dia. Ya ampun, nampaknya kiamat tinggal beberapa hari lagi.
          Saat kiamat, semua orang akan berlari, mencari tempat untuk berlindung, padahal mereka percuma saja melakukan hal itu. Kata uztadz, kalo kiamat datang pintu maaf juga akan di tutup. Jadi, kalau mau masuk surga, harus berbuat baik mulai dari sekarang. Uztads itu mungkin benar.
  Aku sudah melakukan hal-hal baik selama ini. Jadi aku siap kapan saja jika kiamat akan datang. Aku siap. Terlintas lagi di mataku, kejadian beberapa tahun lalu, kejadian yang membuatku bangga pada diriku, karena telah menjadi anak dari keluarga ini. Waktu itu mama mengalami leukimia, dokter memvonis kalau mama hanya punya beberapa minggu lagi. Aku ingin mama bahagia, aku ingin mama terus hidup. Seminggu berlalu, tapi belum ada tanda-tanda pendonor untuk mama. Akhirnya, aku bertekad untuk membantu mama. Aku berjalan menyusuri kota, setelah menulis beberapa kalimat pertolngan. Berharap ada manusia yang berbaik hati ingin menolongku. ku tulis memakai cat hitam di atas kertas cartoon putih A4. “TOLONG MAMAKU, MAMA SAKIT LEUKIMIA. HARUS DAPAT DONOR SEBELUM MINGGU DEPAN. BISA BANTU SAYA? ATAU TUNJUKKAN JALAN PENCERAHAN UNTUK MAMA”
Sejam, dua jam, tiga jam…
Berlalu begitu saja, dan tidak ada sedikitpun yang mau menoleh padaku dan pada tulisanku. Ku putuskan untuk kembali ke rumah sakit. Di sana kulihat nenek yang tengah tidur di sofa. Ayah kemana? Aku tidak berniat mencari ayah. Aku lelah… ingin istirahat saja.
30 menit kemudian aku terbangun. Kulihat nenek tengah sholat di samping tempat tidur mama. Nenek menangis, untuk pertama kalinya aku melihat, orang yang kusayang menangis. Aku bertekad untuk membahagiakan mama, ayah, dan nenek. Aku berjanji. Lalu ku dekati nenek. “auughh… auuh.. augh..” aku mencoba berkomunikasi dengan nenek.
“ada apa sayang?” tangan keriput nenek membelai pipi kananku. Aku tersentuh, lalu aku berbalik ke arah ransel, mengambil secarik kertas bekas dan menuuliskan kalimatku untuk nenek. nenek membacanya, butuh beberapa detik untuk nenek paham maksudku.
“apa? Tidak… tidak akan jangan bertindak bodoh cucuku” nenek mulai menangis. Aku melakukan hal yang sama. Aku memohon. Meyakinkannya, bahwa aku akan baik-baik saja. Butuh waktu yang lama agar nenek merestui permintaanku. Dari percakapanku dengan nenek, baru aku tahu, kalau ayah sekarang ada di malaysia mengurus bisnisnya. Aku marah pada ayah, teganya meninggalkan mama disaat seperti ini.
Akhirnya, permohonankupun di laksanakan, tidak ada kendala apapun. Aku bersyukur, itu artinya tindakan inilah yang harus ku lakukan !
Suster datang, memberiku baju tipis berwarna hijau, dan penutup kepala yang sebenarnya agak longgar ku kenakan. Aku berbaring di ranjang, menunggu detik-detik membanggakan untukku. Ku lihat ibu dari kaca pembatas ruangan, infus masih terpasang di lengannya, matanya masih terututup, artinya dia belum sadar juga. Tabung oksigen mulai mendekat kearahku, suster cantik itu membantuku untuk memakainya. Tiba-tiba dari arah berlawanan dari hidungku, ada gas yang begitu bau. Begitu memabukkan. Aku kehilangan kesadaranku perlahan. Tapi aku masih merasakan decitan ranjangku ketika dibawa ke ruang ICU. Dan ak bersyukur, masih bisa melihat ibu sebelum operasi pendonoran. Lalu aku tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian aku tersadar, dan aku melihat nenek. Oh tuhan, betapa gembiranya aku.
“terima kasih sayang” nenek mengecup keningku. Seperti ada seribu kupu-kupu dalam hatiku yang siap meledak kapan saja.
aku harap ini sesuai dengan keinginanku. Dan memang begitulah adanya.
Aku melarang siapapun memberi tahu mama dan papa, tentang apa yang telah kulakukan hari itu. Tidak boleh ada satupun yang membocorkannya.
 
17 januari. 11.45
Ku dengar adzan telah berkumandang. Ah… satu hari lagi tanpa makanan dan tanpa perhatian. Aku semakin melemah. Kiamat sudah dekat. Bersiaplah kalian.
18 januari 12.01
Kertas diary ini sudah hampir habis. Tinggal 5 lembar lagi… aku tidak yakin bisa menghabiskan sisanya. Sudah lebih dari seminggu aku tidak makan. Sekarang aku menulis sambil baring. Aku menemukan cara ini dalam keadaan yang mendukung. Lucu. Kiamat sudah dekat… aku tidak yakin bisa menghabiskan lembaran ini tepat waktu.
 
*
 
          Mata ariana basah, kini dia merasakan betapa menderitanya putri yang selama ini dia buang secara kasar dari dalam hidupnya. Desy. Hanya itu kenangan indah bagi ariana, hanya nama itu. Mengenai kehidupan desy, itu adalah sebuah kejahatan. Arian menangis sekencang-kencangnya matanya terpejam erat. Air matanya mengucr deras membasahi pipinya  yang putih. Desy. Kini nama itu hanya sebuah memori pahit. Tidak ada lagi aungan darinya, tidak ada lagi kekesalan yang bisa dirasakan oleh ariana kepada desy. Ariana telah melewatkan tahun-tahun berharganya begitu saja. Dia tidak pernah sadar akan mutiara cintanya. Diary biru langit itu bergetar ditangan ariana. Tangannya menggenggam erat buku itu mengarahkannya ke bawah seolah akan menjatuhkannya. Tapi kembali di angkat dan di genggam erat, seolah dia tidak ingin kehilangn buku itu, dia memeluknya.
“desy… anak mama…” kata ariana lirih penuh isakan.
“desy… anak mama… mama sayang sama desy… desyyy !!!” suara ariana berubah menjadi teriakan penyesalan. Penyesalan yang membawanya kepada kenangan yang tidak Ingin diingatnya.
          Desy kini telah tiada. Dia pergi dengan cara yang indah. Dia telah menemui kiamatnya. Di sini, di kamar ini, kamar yang tidak memiliki foto sedikitpun, kamar yang telah menemani kehidupan desy selama beberapa tahun. Disinilah ariana duduk, di tempat desy menuliskan segala suasana hatinya.
          Penyesalan memang selalu datang belakangan. Hal itu yang mengitari otak ariana. Bagi dessy, menjadi anak ariana adalah sebuah anugrah terindah. Bagi desy, ibunya tidak benar-benar membencinya, baginya ibu adalah permata terindah dalam hidupnya. Pengorbanan untuk ibunya, tidak pernah membuatnya sombong dan ingin di balas. Cintanya kepada ariana melebihi batas dunia ini.
*
DESY NUNGGU MAMA DI SURGA AJA YA?
1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar